Jumat, 10 September 2010

Gunung Huangshan

Gunung Huangshan yang terletak di Provinsi Anhui, Tiongkok Timur dianggap sebagai gunung yang paling khas dan paling indah di Tiongkok. Tahun 1990, Gunung Huangshan dicantumkan dalam Daftar Warisan Alam dan Kebudayaan Dunia.

Di Tiongkok ada peribahasa yang berbunyi: sepulang dari lima gunung paling terkenal Tiongkok, tidak mau mengunjungi gunung yang lain; setelah pulang dari Gunung Huangshan, lima gunung terkenal itu pun tak usah dikunjungi. Dari peribahasa ini dapat terlihat betapa istimewa dan anggun Gunung Huangshan itu.

(Pohon Cemara "Penyambutan Tamu" di Gunung Huangshan)

  

Gunung Huangshan terletak di daerah pemandangan Gunung Huangshan bagian tengah selatan Tiongkok, dengan luasnya mencapai 1200 kilometer persegi. Gunung Huangshan sangat tinggi dan jurangnya sangat dalam sehingga iklim di daerah itu lain di kaki gunung lain di puncak. Gunung Huangshan sangat terkenal dengan banyaknya awan, kelembaban dan banyak turun hujan. Iklim itulah memberikan dukungan bagi keanekaragaman flora dan fauna.

Gunung Huangshan terkenal dengan pohon tusam, batu, awan dan mata air hangat.

Pohon tusam adalah pohon yang paling banyak terdapat di Gunung Huangshan. Pohon tusam yang berusia seratus tahun lebih berjumlah 10 ribu batang lebih di Gunung Huangshan. Pohon-pohon tusam yang aneka ragam membentuk pemandangan yang ajaib dan pantas disebut sebagai pemandangan indah nomor satu Gunung Huangshan. Pohon-pohon tusam itu kebanyakan tumbuh di sela batu dan cadas. Mereka berurat berakar dan tampak sangat megah, menunjukkan daya hidup yang tegar. Salah satu pohon tusam di antaranya dipandang sebagai lambang Gunung Huangshan. Pohon tusam itu tumbuh di Puncak Yunu atau puncak gadis. Pohon tusam itu berdaun lebat dengan cabangnya condong ke depan dan mirip seorang yang mengulurkan tangannya untuk menyambut kedatangan tamu, maka pohon tusam itu diberi nama Yingkesong atau "pohon tusam sambut tamu".

Batu yang berbentuk aneka ragam di Gunung Huangshan adalah pemandangan indah nomor dua Gunung Huangshan. Di Gunung Huangshan terdapat banyak puncak dengan kaki gunungnya terjun sampai ke bawah jurang. Batu yang berbentuk aneh terlihat di mana-mana, baik di puncak maupun di lereng atau lurah. Dengan imajinasi yang berani, batu-batu itu bisa mirip binatang, tumbuhan ataupun manusia. Lautan awan dan mata air adalah dua pemandangan khas lagi di Gunung Huangshan. Kedua pemandangan itu terbentuk karena geologi dan iklim yang istimewa.

(Lautan Awan di Gunung Huangshan)

Selain pemandangan alam, Huangshan juga terkenal dengan kebudayaan yang bersejarah lama. Dalam sejarah, banyak bujangga dan pelukis tertarik oleh pemandangan Gunung Huangshan dan menciptakan banyak karya di gunung tersebut. Syair yang memuja Gunung Huangshan saja sudah berjumlah 20 ribu buah lebih.

Di bidang kesenian, di Tiongkok terdapat Pelukis Angkatan Gunung Huangshan yang pandai melukiskan keindahan Gunung Huangshan dengan cara lukisan tradisional Tiongkok. Para juru kamera zaman sekarang lebih-lebih mencintai Gunung Huangshan dan menjadikannya sebagai sumber karyanya. Selain itu, nenek moyang legendaris bangsa Tionghoa Kaisar Xuanyuan konon pernah menetap di Gunung Huangshan dan mencapai kesempurnaan serta naik surga di sini. Kini banyak puncak Gunung Huangshan mendapat nama yang berkaitan dengan kisah legendaris itu, misalnya Puncak Xuanyuan dan lain sebagainya.

Berkat keindahan pemandangan alam dan latar belakang kebudayaannya yang melimpah, Gunung Huangshan pada tahun 1990 dicantumkan dalam Daftar Warisan Alam dan Kebudayaan Dunia. Dewan Warisan Dunia mengatakan bahwa Gunung Huangshan banyak mendapat pujian dalam sejarah kesusastraan dan kesenian Tiongkok. Sedangkan bagi wisatawan, pelukis dan juru kamera dari seluruh dunia, Gunung Huangshan memanifestasikan pesona dan keindahan yang kekal.

Kota Kuno Lijiang

Kota Lijiang terletak di Propinsi Yunnan, Tiongkok Barat Daya. Dari awal pembangunannya, Kota Lijiang sudah menunjukkan keistimewaannya yang berbeda dengan kota-kota lain di pedalaman Tiongkok. Di Kota Lijiang tidak terlihat tembok dan gerbang yang tinggi besar, di dalam kota juga tidak terdapat jalan-jalan yang teratur rapi. Di Kota Lijiang hanya terlihat bangunan dan jalan yang sebagaimana adanya dan adat istiadat istimewa. Dan kesemua ini merupakan alasan terbaik Bagi Kota Lijiang tercantum dalam Daftar Warisan Budaya Dunia.

(Bangunan Perumahan Kota Kuno Lijiang)

Kota kuno Lijiang mulai dibangun pada akhir abad ke-12. Kota ini terletak di dataran tinggi 2400 meter di atas permukaan laut dengan luasnya mencapai 4 kilometer persegi. Di Kota Lijiang terdapat belasan etnis, antara lain, Naxi, Susu, Pumi, Han, Bai, Yi dan Tibet. Di antaranya jumlah penduduk etnis Naxi kira-kira menempati 70%.

(Kota Kuno Lijiang)

(Jalan Lama di Tengah Kota Kuno Lijiang)

"Kota air dan air kota" adalah ciri khas kota kuno Lijiang. Danau Heilongtan di sebelah utara kota adalah sumber utama air kota Lijiang. Air Heilongtan mengalir dari utara ke selatan dengan berliku-liku dan setelah memasuki kota, air itu melahirkan banyak anak sungai yang tak terbilang banyaknya yang mengalir berbelok-belok menelusuri tembok rumah atau menyeberangi jalan-jalan dan lorong kecil. Dengan demikian, di dalam kota itu terbentuklah pemandangan jaringan air yang mengalir melintas dan menembus jalan, lorong dan gedung. Di atas jaringan air itu, terdapat 354 buah jembatan batu dan jembatan kayu yang aneka ragam. Banyaknya jembatan di kota kuno itu tak ada taranya di Tiongkok.

(Pemandangan Kota Kuno Lijiang)

Etnis Nanxi sejak dahulu kala menciptakan kebudayaannya yang unik, yaitu Kebudayaan Dongba yang mendapat namanya karena tersimpan di dalam Agama Dongba etnis Naxi. Kebudayaan Dongba terutama terdiri dari huruf Dongba, Kitab Dongba, Lukisan Dongba, Musik Dongba, Tarian Dongba dan aneka ragam upacara ritual.

Huruf Dongba adalah aksara piktografis dan terdiri dari 1400 huruf yang dipakai sampai sekarang, sehingga Huruf Dongba dijuluki sebagai satu-satunya akasa piktografis yang masih hidup di dunia, dan dianggap sebagai warisan budaya berharga seluruh umat manusia. Huruf Dongba menarik perhatian kalangan ilmu internasional pada tahun 1970-an dan penelitinya sekarang banyak sekali.

Kitab Dongba adalah buku agama yang ditulis dengan huruf Dongba. Sekarang jumlahnya kira-kira 40 ribu jilid. Buku itu selain disimpan di Tiongkok, juga terdapat di Amerika, Inggris dan Prancis. Di antaranya, di Perpustakaan Kongres Amerika dan Perpustakaan Universitas Harvard terdapat 4000 jilid.

Kitab Dongba sangat kaya isinya, merupakan bahan berharga bagi penelitian pikiran filsafat, agama dan adat istiadat, sosial, sejarah, etika, hubungan antar etnis, kesusastraan, kesenian dan bahasa zaman kuno etnis Naxi.

Lukisan Dongba secara kasar terbagi menjadi tiga macam, yaitu Lukisan Papan, Lukisan Kertas dan Lukisan Gulungan. Di antaranya, Lukisan Gulungan paling terkenal. Lukisan Peta Jalan Dewa adalah karya representatif Lukisan Dongba. Panjangnya 14 meter dan isinya terbagi menjadi tiga alinea, yang masing-masing melukiskan surga, dunia manusia dan neraka. Di lukisan itu terdapat 400 lebih tokoh, dewa, Budha, setan dan binatang. Lukisan itu bergaya kasar, sederhana dan menarik.

Musik Dongba juga disebut sebagai Musik Lijiang Dongjing dan berasal dari musik Agama Dao etnis Han yang hidup di bagian tengah Tiongkok. Pada pertengahan abad ke-15, musik etnis Han itu diimpor oleh etnis Naxi dan berangsur-angsur menjadi musik klasik khas etnis Naxi dan dijuluki sebagai "fosil hidup" musik.

Upacara ritual Dongba mempunyai 50 lebih macam, di antaranya upacara sembahyang langit, sembahyang angin dan sembahyang panjang umur adalah tiga upacara yang berskala besar.

(Ibu Etnis Naxi "di Senja Kala")

(Gapura di Pinggir "Jalan Segiempat)

Kota Kuno Lijiang sudah mempunyai sejarah selama 800 tahun lebih. Jaringan jalan yang tak teratur di dalam kota serta bangunan yang dibangun mengikuti jalannya geografi menambah daya hidup dan keharmonisan bagi kota tersebut. Gaya kota itu sangat langka di antara kota-kota kuno Tiongkok. Penduduk etnis Naxi beserta etnis-etnis lainnya menciptakan kebudayaan yang cemerlang, yang tercermin pada jalan-jalan, gapura, sungai, jembatan maupun perumahan, semuanya memperlihatkan etika kebudayaan dan etika kesenian etnis Naxi, memanifestasikan isi mendalam sejarah dan kebudayaan.

(Pemandangan di Teluk Pertama Sungai Yangzi, Lijiang)

Tahun 1997, kota kuno Lijiang tercantum sebagai warisan budaya dunia. Menurut ahli Komisi Penilaian Warisan Dunia, kota kuno Lijiang adalah tempat permukiman padat etnis-etnis minoritas yang mempunyai arti penting. Kota itu memberikan bahan berharga bagi penelitian sejarah pembangunan kota dan sejarah perkembangan etnis umat manusia, merupakan warisan budaya yang berharga, sekaligus kekayaan Tiongkok bahkan dunia.

Gua Yungang

Antara akhir abad ke-5 dan abad ke-6, agama Buddha sangat populer di Tiongkok. Pada masa itu, baik pemerintah maupun kalangan rakyat sama-sama gemar membuat patung figur Buddha. Gua Yungang yang penuh dengan patung Buddha di Kota Datong, Propinsi Shanxi, Tiongkok Utara justru adalah warisan budaya berharga peninggalan zaman tersebut. Gua Yungang mewakili taraf tertinggi kesenian gua Tiongkok pada masa itu. Berikut kami sampaikan laporan rinci tentang Gua Yungang.

Gua Yungang terletak di kaki Gunung Wuzhou, Kota Datong, Propinsi Shanxi, Tiongkok Utara. Gua itu mulai digali pada tahun 453 Masehi, yaitu pertengahan abad ke-5, tapi proyek pemahatan patung Buddha terus berlangsung sampai awal abad ke-6.

Gua Yungang sebenarnya adalah kelompok gua yang digali di sebelah Gunung Wuzhouter sepanjang seribu meter dari timur ke barat. Sekarang Gua Yungang terutama terdiri dari 45 gua dengan jumlah patung Buddha tercatat 51 ribu buah. Dilihat secara keseluruhan, Gua Yungang sangat megah.

 

Di dalam Gua Yungang terdapat aneka ragam patung, maka gua itu dijuluki sebagai khazanah kesenian patung zaman kuno Tiongkok. Gua-gua yang terdapat di Gua Yungang dapat dibagi menjadi tiga zaman, yaitu zaman awal, zaman pertengahan dan zaman akhir. Dengan berbedanya zaman pemahatan, patung-patung pun berbeda gayanya. Misalnya patung pada zaman awal kelihatannya bergaya megah dan gagah, sedangkan gua yang terbuat pada zaman pertengahan terkenal dengan patung-patung yang halus dan berdekorasi mewah. Sedangkan gua-gua yang terbentuk pada zaman akhir, berskala kecil dan patungnya kelihatan langsing dan cantik, dengan perbandingan tubuhnya cocok sekali, merupakan teladan kesenian gua bagian utara Tiongkok. Selain itu, patung-patung mengenai musik, tari dan akrobatik yang terdapat dalam Gua Yungang juga merupakan manifestasi populernya pikiran agama Buddha dan pencerminan kehidupan sosial pada waktu itu.

Gua Yungang digali dalam tiga zaman, yaitu zaman awal, zaman pertengahan dan zaman akhir. Gua-gua yang tergali dalam tiga zaman itu masing-masing dengan benar mencatat sejarah perkembangan kesenian agama Buddha India dan Asia Tengah ke arah kesenian agama Buddha Tiongkok, sekaligus mencerminkan proses sekularisasi dan nasionalisasi pembuatan patung agama Buddha di Tiongkok. Di Gua Yungang terdapat patung-patung agama Buddha yang berbeda gaya pemahatannya, tapi saling bercampur-baur. Dengan ciri khas itulah, kesenian Gua Yungang dipuji sebagai Pola Yungang dan merupakan titik balik perkembangan kesenian agama Buddha Tiongkok. Di gua-gua zaman pertengahan, terdapat patung balairung gaya Tiongkok, sedangkan dalam gua-gua zaman akhir, terdapat lebih banyak patung yang memanifestasikan kesenian arsitektur tipe Tiongkok. Gejala ini menunjukkan semakin nasionalisasinya kesenian agama Buddha.

Gua Ke-5 di Gua Yungang adalah gua yang paling besar skalanya. Di depan gua itu terdapat sebuah gedung kayu bertingkat empat. Di tengah gua itu terlihat satu patung Buddha dengan tingginya mencapai 17 meter. Di atas lutut patung Buddha itu dapat ditampung 120 orang. Sedangkan di satu kakinya juga dapat berdiri 12 orang. Sebagai perbandingan, di Gua Ke-15 terdapat satu patung Buddha yang duduk yang berskala sangat kecil. Di dalam gua itu terdapat 10 ribu lebih patung Buddha, maka gua itu pun dijuluki orang sebagai "gua 10 ribu Buddha". Di antaranya, patung Buddha yang paling kecil hanya beberpa sentimeter tingginya.

Gua Yungang mewakili taraf tertinggi kesenian gua zaman awal Tiongkok. Di antara 50 ribu lebih patung, baik patung Buddha, pemain musik, maupun manusia dan dewa, semuanya terpahat dengan seni dan teknik tinggi. Pada Desember tahun 2001, Gua Yungang dicantumkan dalam Daftar Warisan Dunia. Dewan Warisan Dunia menilai Gua Yungang sebagai karya representatif pada masa puncak pertama kesenian agama Buddha Tiongkok.

Gunung E Mei Dan Buddha Le Shan

Gunung E Mei yang terletak di bagian barat daya Provinsi Sichuan, Tiongkok barat. Tinggi puncaknya mencapai 3099 kilometer di atas permukaan laut.

Gunung Emei menyimpan sumber daya fauna dan flora yang sangat kaya, di mana terdapat ekosistem hutan subtropik yang paling sempurna dan terpelihara paling utuh di daratan tenggara Tiongkok. Lingkup penghutanannya mencapai 87%.

Gunung E Mei adalah salah satu di antara empat gunung agama Budha yang terkenal di Tiongkok. Ada banyak gunung agama Budha yang terkenal di Tiongkok, empat di antaranya yang paling terkenal, yakni Gunung Wutai di Provinsi Shanxi, Gunung E Mei di Provinsi Sichuan, Gunung Jiu Hua di Provinsi Anhui, dan Gunung Pu Tuo di Provinsi Zhejiang.

Buddha Le Shan Terletak di Puncak Xiluan bagian timur Gunung E Mei, mulai dibangun pada tahun 713 masehi, dan selesai dibangun setelah 90 tahun kemudian. Gua Leshan adalah gua Moya yang paling besar skalanya di dunia. Patung Buddha dengan tingginya mencapa 71 meter. Di dalam gua itu terdapat 90 ribu lebih patung Buddha yang diukir pada Dinasti Tang.

Gunung E Mei dan Buddha Leshan dengan benar mencatat sejarah perkembangan kesenian agama Buddha Tiongkok, sekaligus mencerminkan proses sekularisasi dan nasionalisasi pembuatan patung agama Buddha di Tiongkok.

Berkat keindahan pemandangan alam dan latar belakang kebudayaannya yang melimpah, Gunung Emei dan Buddha Leshan pada tahun 1996 dicantumkan dalam Daftar Warisan Alam dan Kebudayaan Dunia. Dewan Warisan Dunia mengatakan bahwa Gunung Emei dan Buddha Leshan banyak mendapat pujian dalam sejarah kesusastraan dan kesenian Tiongkok.


Manusia Peking dan Zhou Kou Dian

Zhou Kou Dian terletak 50 km sebelah barat daya kota Beijing. Pada tahun 1921, ada dua sarjana, seorang dari Swedia bernama Johan Gunnar Andersson, dan yang lainnya dari Austria bernama Otto Zdansky menemukan dua buah gigi manusia purba di dapur pembakar kapur petani. Pada tahun 1927, seorang professor Kanada yang bekerja di Institut Kedokteran Xiehe Beijing mengemukakan terori tentang “manusia Peking” dinamakan pula “manusia kera Peking” atau “manusia kera Tiongkok”, disingkat “manusia Peking.” 2 Desember tahun 1929, paleo antropolog Tiongkok, Pei Wenzhong berhasil menggali sebuah batok kepala manusia Peking yang utuh di sebuah gua Zhou Kou Dian.

Desa Zhou Kou Dian dikelilingi perbukitan di sebelah barat laut, sedang sebelah tenggara adalah tanah subur yang luas ta bertepi. Dulu di sini pernah mengalir sebuah sungai yang dinamakan Sungai Zhou Kou, tapi kini sudah kering. Di desa ini ada dua bukit batu kaplur yang dinamakan Bukit Tulang Naga karena banyak menghasilkan tumbuhan bahan obat yang dinamakan Tulang Naga.

Penemuan ini sempat menggemparkan kalangan keilmuan di dunia. Kemudian dalam penggalian-penggalian arkeolog setelah itu, para sarjana Tiongkok dan asing telah menemukan 6 batok kepala, 12 pecahan batok kepala dan 150 lebih gigi di Bukit Tulang Naga Zhou Kou Dian. Selain itu ditemukan pula lebih 100 ribu alat-alat batu yang pernah digunakan “manusia Peking” untuk menyalakan api dan berburu.



Sejak itu desa kecil pegunungan ini mulai dikenal dunia, dan oleh paleo antropolog dijadikan basis untuk meneliti asal usul manusia, dan menguak rahasia manusia purba yang pernah hidup di sini setengah juta tahun yang silam.

Penggalian secara sistematis di patilasan Zhou Kou Dian dilakukan antara tahun 1927 dan 1937, kemudian terhenti dalam waktu panjang karena kekacauan perang. Sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949 sampai tahun 1966, para sarjana Tiongkok dan asing melakukan kerjasama dalam penggalian di sana, pada waktu itu, sejumlah sarjana terkenal berkumpul di sini melakukan penggalian dan menemukan fosil-fosil yang menunjukkan bahwa jauh pada masa 400 ribu sampai 500 ribu tahun yang silam, manusia Peking sudah mulai mencari kehangatan dan membakar makanan dengan menyapakan api.

Mereka tinggal di gua dan berburu dengan alat dari batu. Volume otak manusia Peking lebih kecil daripada manusia zaman modern. Dari batok kepala manusia Peking yang tergali ternyata volume otaknya hanya 1059 miligram, sedang manusia zaman modern 1400 miligram. Manusia purba itu sudah bisan berjalan dengan berdiri tegak. Dihitung berdasarkan fosil yang tergali, tingga badan lelaki rata-rata 156 sentimeter, sedang wanita 144 sentimeter. Usia harapan mereka sangat pendek, 70% meninggal sebelum berusia 14 tahun, jarang sekali yang bisa mencapai 50 tahun.

Penggalian di gua Bukit Tulang Naga Zhou Kou Dian telah menemukan tiga batok kepala manusia purba yang dinamakan manusia gua bukit yang hidup kira-kira 27 ribu tahun silam. Kondisi fisik mereka nyata sekali mengalami kemajuan nyata daripada manusia kera Peking. Mereka sudah menguasai teknik penyalaan api, pengeboran dan pengasahan, serta mempunyai konsepsi tentang keindahan. Menurut para paleo antropolog, manusia gua bukit sudah bisa mengadakan upacara pemakaman bagi yang meninggal. Fosil manusia gua bukit adalah data benda penting tentang evolusi manusia. Tahun 1987, Zhou Kou Dian dicantumkan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco.

Dongeng tentang Lima Gunung Ajaib Tiongkok

Setelah nenek moyang manusia Dewi Nvwa berhasil menciptakan manusia, di dunia ini selalu tenteram. Suatu peristiwa, langit dan bumi bertabrakan sehingga langit berlubang besar menganga dan bumi tenggelam. Sebagai akibatnya api meletus dari pusat bumi dan hutan terbakar; air bah membanjir dari bawah tanah dan menggenangi pegunungan. Siluman dan setan iblis serta binatang ganas merajalela di mana-mana. Dan sebagai akibatnya, rakyat hidup dalam kesengsaraan.

Setelah mendengarkan suara manusia yang minta pertolongan, Dewi Nvwa pertama-tama membunuh siluman dan setan iblis, kemudian mengatasi bencana banjir. Selanjutnya Dewi Nvwa melakukan proyek besar penampalan langit.

Pertama-tama Dewi Nvwa pergi ke mana-mana untuk mengumpulkan kayu bakar dan membawanya ke lokasi langit yang berlubang besar. Setelah kayu bakar bertumpuk setinggi langit, ia selanjutnya berangkat untuk mencari batu biru yang berwarna sama dengan langit. Oleh karena jumlah batu berwarna biru tidak cukup, maka Dewi Nvwa terpaksa mengumpulkan juga batu putih, batu kuning, batu merah dan batu hitam yang ditaruh di atas kayu bakar. Dengan mengambil bibit api dari api yang menyembur dari bawah tanah, ia membakar kayu bakar. Api dari kayu bakar itu menyalakan seluruh kosmos dan lama-kelamaan batu lima warna itu pun terbakar menjadi merah, dan cairan batu pun ke dalam lubang langit. Setelah api kayu bakar itu padam, lubng di langit pun selesai ditampal.

Walaupun langit dan bumi yang bobol selesai ditampal oleh Dewi Nvwa, namun ia tak mampu memulihkan bentuknya yang asli, misalnya langit di barat laut agak miring sehingga mata hari dan bulan cenderung berjalan ke sana; sedang di bagian tenggara bumi masih ada satu lubang besar, dan air dari sungai baik yang besar maupun kecil terus mengalir ke dalamnya, dan lama-kelamaan di sana terbentuklah samudera.

Di dasar timur Laut Bohai terdapat suatu ngarai besar yang dinamakan “guixu”. Biarpun air dari daratan maupun laut semuanya mengalir ke dalam “guixu”, namun volume air di “guixu” tidak bertambah, dan juga tidak berkurang karenanya, maka tidak akan terjadi bencana banjir yang membahayakan manusia.

Konon di “guixu” terdapat lima buah gunung ajaib, yaitu “Daiyu”, “Yuanqiao”, “Fanghu”, “Yingzhou” dan “Penglai”. Mereka masing-masing tingginya 15.000 kilometer dan antara satu sama lain berjarak 35.000 kilometer. Di atas gunung itu berdiri balairung yang terbuat dari emas, dan langkan batu giok berukiran. Di kelima gunung itu bermukim banyak dewa dewi.

Binatang dan burung di kelima gunung itu semuanya berwarna putih. Di atas gunung-gunung itu juga terlihat pohon-pohon yang berbentuk aneh. Buah pohon-pohon itu adalah giok dan mutiara dengan rasanya lezat sekali. Orang biasa yang makan buah itu akan awet muda seumur hidup. Sedangkan dewa dan dewi yang hidup di sana semuanya berpakaian putih dengan bersayap dua di punggungnya. Biasanya dewa dan dewi itu terbang secara bebas di atas laut dan di bawah langit biru untuk pulang balik antara kelima gunung itu, demi menengok sahabat dan handai taulannya. Mereka hidup dengan bahagia.

Namun mereka juga merasa sedikit risau, yakni kelima gunung ajaib itu semua terapung di atas samudera tanpa akar yang mengikatnya dengan bumi, sehingga akan terhanyut ke mana-mana begitu ditiup angin besar. Untuk itu, mereka mengirim wakil ke langit untuk mengeluh kepada Kaisar Kayangan. Kaisar Kayangan juga takut kalau-kalau kelima gunung itu pada suatu hari melayang ke tepi langit sehingga dewa dewi kehilangan tempat berteduh. Maka ia memesan Dewa Samudera bernama “Yuqiang” untuk mengirim 15 ekor kura-kura untuk mendukung lima gunung tersebut. Setiap gunung itu didukung oleh seekor kura-kura, dengan dua ekor lainnya menunggu di sebelah. Mereka bergilir mendukung gunung setiap 60.000 tahun. Dengan demikian, kelima gunung itu menjadi stabil, dan dewa dewi yang hidup di sana semuanya riang gembira.

Namun tak tersangka bahwa pada suatu tahun, seorang raksasa dari Negara Longbo datang ke “guixu” untuk memancing ikan. Tubuh raksasa itu setinggi gunung ajaib. Ia berturut-turut memancing 6 ekor kura-kura dari dasar laut, yang kebetulan bergiliran mendukung gunung. Raksasa dengan gembira membawa keenam ekor kura-kura itu pulang ke rumah. Sedangkan gunung “Daiyu”dan gunung “Yuanqiao” yang kehilangan kura-kura di bawahnya tertiup angin ke kutub utara dan tenggelam ke dalam laut. Dewa dan dewi di kedua gunung itu terburu-buru terbang ke langit dengan keringat membasahi tubuh karena terlalu capek.

Setelah mengetahui hal itu, Kaisar Kayangan marah sekali dan memperpendek tubuh orang raksasa di negeri “Longbo”, supaya mereka nanti tidak bisa menimbulkan kekacauan lagi. Tiga gunung yang lain yang tetap didukung oleh kura-kura besar kini masih terletak di bagian pantai timur Tiongkok.

Cerita Tentang Sui Ren Mendapat Api Dengan Membor Kayu


Dalam dongeng-dongeng Tiongkok terdapat banyak pahlawan yang membawa kesejahteraan kepada rakyat dengan menggunakan kecerdasan, keberanian dan keuletannya, Sui Ren adalah salah satu di antaranya.

Pada zaman barbarian dahulu kala, manusia tidak mengenal api, lebih-lebih tidak tahu bagaimana memanfaatkannya. Ketika malam tiba, dunia sekeliling menjadi gelap-gulita, raung binatang liar terdengar memecah kesunyian, orang-orang yang kedinginan dan ketakutan meringkuk jadi satu. Karena tak ada api, orang hanya dapat mengisi perut dengan makanan mentah sehingga sering sakit dan umurnya juga pendek.

Di langit ada seorang dewa bernama Fu Xi. Ia merasa sedih menyaksikan beratnya kehidupan di duniawi. Terbit keinginannya memperkenalkan kegunaan api kepada manusia, lalu dengan kesaktiannya ia menurunkan hujan dan halilintar di hutan. Terdengar bunyi “tar, tar”, halilintar menghantam pohon dan terbakarlah pohon-pohon itu, dengan cepat api menjalar menjadi kebakaran hutan yang dahsyat. Orang-orang yang panik menyaksikan halilintar dan kebakaran buru-buru melarikan diri. Tak lama kemudian, hujan berhenti dan malam tiba, tanah yang basah oleh hujan menjadi lebih dingin. Orang-orang yang melarikan diri kembali berkumpul. Mereka dengan perasaan takut memandang pohon-pohon yang sedang terbakar. Pada waktu itu seorang pemuda mendapatkan bahwa raung binatang liar yang biasanya muncul di sekitar mereka tidak terdengar lagi. Ia berpikir, apakah binatang liar takut pada barang yang menyala itu? Dengan berani ia mendekati api dan segera terasa begitu hangat udara di sekitarnya. Maka dengan gembira ia mengajak teman-temannya,“ayo kemari, api tidak menakutkan, api membawa terang dan kehangatan.” Ketika itu pula, orang menemukan binatang liar yang mati terbakar menghamburkan bau gurih. Mereka lalu berkumpul di dekat api dan membagi-bagi daging binatang liar yang terbakar itu, belum pernah mereka merasakan lezatnya makanan seperti itu. Dari pengalaman ini manusia mulai mengenal api dan mengetahui nilai penting api. Lalu dicarilah ranting-ranting kayu untuk menyalakan api. Setiap hari benih api itu dijaga secara bergilir supaya tidak padam. Namun pada suatu hari, orang yang menjaga api itu tertidur, dan ranting habis dimakan api, api pun padam. Manusia kembali terjerumus dalam gelap dan dingin. Mereka merasa sangat sedih.

Kesemua ini disaksikan oleh Dewa Fu Xi. Ia menemui pemuda yang paling awal menemukan kegunaan api itu dalam mimpinya dan memberitahu kepadanya,”Di sebelah barat yang sangat jauh ada sebuah negeri bernama Suiming, di sana ada benih api. Pergilah ke sana untuk mengambil benih api itu.” Setelah bangun dari tidur, pemuda itu ingat akan apa yang dikatakan sang dewa. Ia membulatkan hati untuk mengambil benih api di Negeri Suiming.

Pemuda itu akhirnya sampai di Negeri Suiming setelah melintasi seribu gunung dan sungai serta hutan belantara dengan mengatasi segala mara bahaya dan kesulitan. Akan tetapi, di sana ternyata tidak ada sinar matahari, sekeliling gelap-gulita tak ada perbedaan siang dan malam, apalagi api. Sang pemuda sangat kecewa, lalu duduk di bawah pohon Suimu. Tiba-tiba, di depan pemuda itu terlihat ada sinar berkilat, menerangi alam sekeliling. Segera ia bangkit mencari tempat asal sinar itu. Pada saat itulah ia melihat beberapa ekor burung besar sedang mematuk kutu di pohon Suimu dengan menggunakan paruhnya yang pendek dan keras. Setiap kali burung mematuk, ada bunga api memercik dari pohon itu. Menyaksikan pemandangan itu, terlintas di benak pemuda itu untuk meniru apa yang dilakukan burung tersebut. Segera dicarinya ranting-ranting pohon Suimu, lalu digosok-gosokkan ranting yang kecil ke ranting yang lebih besar. Alhasil, percikan api menyala, tapi tak ada api. Sang pemuda tidak kecut hati, dicarinya lagi ranting-ranting berbagai macam pohon, dengan sabar ia mencoba menggosok-gosokkan ranting-ranting dari pohon yang berbeda. Akhirnya ada asap mengepul dan api menyala. Begitu gembira pemuda itu sampai tak dapat menahan tetesan air mata.

Sang pemuda kembali ke kampung halaman dengan membawa benih api yang tak akan padam untuk selamanya yakni cara mendapatkan api dengan mengebor kayu. Sejak itulah manusia tidak lagi hidup dalam kedinginan dan ketakutan. Pemuda itu dikagumi masyarakat karena keberanian dan kecerdasannya, dan iapun diangkat menjadi pemimpin dan dinamakan “Suiren” yang berarti pengambil api.