Sabtu, 04 September 2010

Makna Sebutir Nasi,,,,

Ketika kita mengeluh tentang makanan yang kita dapat,,, ketika kita mengeluh nasi kita ga enak,,entah keras,,atau terlalu lembek,, atau lauknya cuma ini, itu,,ketika kita mengatai makanan kita dengan perkataan yang tidak baik,,? teringatkah kita nasib saudara kita disisi lain dunia ini,, yang harus berjuang meregang nyawa melawan kelaparan,,,?

-Photo photo ini menggambarkan betapa berharganya makanan itu semoga dengan melihatnya, kita lebih dapat menghargai makanan yang kita miliki-




















photo ini adalah pemenang penghargaan "Pulitzer", diambil oleh Kevin Carter di Sudan,, menggambarkan seorang seorang bocah kelaparan yang merangkak menuju kamp Makanan PBB yang terletak satu kilometer didepannya,,, sedangkan dibelakangnya ada Burung vulture (semacam burung pemakan bangkai) yang sedang menunggui bocah tersebut tewas kemudian memakannya...tak seorangpun yang tau nasib bocah tersebut, termasuk Kevin, karena dia pergi setelah mengambil gambarnya,,,

>> Kevin Bunuh diri 3 bulan sesudahnya karena Depresi..






















"Bu,,, lapar......."


















"bu,, aku pergi dulu yah,,, dah ga kuat lagi,,, "
















"sayang,,, maem dulu,,cuma ini yang ibu punya,,,,,"

















"hiks...hiks,,,hiks,, maemku jatuh,,,ibu n adek dirumah belum maem,,,"

Jangan Mensia-siakan dan Membuang Makanan..!

"不要留下一粒米 ..!"
"jangan sisakan sebutir nasi di piringmu...! "

Dikisahkan di sebuah kerajaan kecil, sang raja mempunyai seorang putera yang sangat dimanjakan. merasa sebagai anak semata wayang sekaligus putera mahkota kerajaan, dia tumbuh menjadi remaja yang urakan, tidak tahu sopan santun dan tidak mau menghargai orang lain. Ia bahkan suka melecehkan para pengasuhnya. karena itu, pangeran kecil ini dibenci dan dihindari oleh para pengasuh maupun pegawai istana lainnya.

Walau dibenci dan dijauhi, pangeran kecil ini masih punya satu-satunya sahabat seusianya yang setia kepadanya, yaitu si bocah laki-laki anak dari si juru masak istana. Si bocah tinggal di bangunan kecil jauh di belakang istana kerajaan. Karena dilarang menginjakkan kakinya ke dalam istana, maka sang pangeran kecillah yang biasa datang bermain ke rumahnya si bocah. Suatu hari, pangeran kecil meminta si bocah untuk menemaninya makan siang di ruang makan istana. Bukan menemaninya makan, tetapi berdiri manis menunggui sambil melihat sang pangeran makan. Sesaat sebelum makan, pangeran kecil terlihat menundukkan kepala sambil mulutnya berkomat-kamit seolah sedang berdoa.

Sejenak kemudian, pangeran kecil mulai melahap hidangnya yang tersaji di meja makan. Semua jenis makanan yang enak-enak dan mahal dicicipi. Pangeran bersantap sambil bertingkah seperti orang yang sedang kelaparan dan ingin menghabiskan semua makanan yang di atas meja. Kadang ia hanya mencuil dan mengigit makanannya, lalu memuntahkan dan membuang sisanya di meja. Meja makan jadi berantakan dan sisa-sisa makanan berserakan di mana-mana. Sang pangeran seperti sedang mengolok-olok sahabatnya yang hanya berdiri memandanginya. Tapi bukannya merasa dihina, si bocah kecil itu malah tersenyum-senyum sedari tadi. Pangeran kecil pun jadi tersinggung dan marah melihat kelakuan sahabatnya.

"Hai... apa yang kamu tertawakan? Beraninya kamu tertawa seperti itu di hadapanku? Kamu iri melihat aku makan enak? teriak pangeran kecil itu.

"Tidak, tidak ada apa-apa...," jawab si bocah. "Kalau tidak ada apa-apa, mengapa kamu tertawa? Apanya yang lucu?" tanya sang pangeran sengit.

"Pangeran jangan cepat marah, hamba sungguh senang dan tidak menyangka sama sekali, bahwa seorang pangeran pun ternyata juga berdoa sebelum makan. Apa yang pangeran ucapkan dalam doa tadi?" tanya si bocah. "Walaupun aku seorang pangeran, aku juga orang beragama. Di agamaku sejak kecil diajarkan, supaya setiap hendak makan mengucapkan ¸Ð л (Gan Xie) doa terima kasih kepada Yang Maha Kuasa, atas pemberian makanan yang dihidangkan untukku," jelas sang pangeran dengan bangga.

Si bocah kecil tetap saja tersenyum-senyum. Tapi kali ini ia berani berkata demikian, "Menurut pendapat hamba yang mulia, Rasa syukur dan terima kasih akan lebih berarti bila ditujukan juga kepada orang-orang ynag telah menyediakan semua bahan makanan dan memasak hingga tersaji hidangan di meja ini," kata si bocah. "Lihatlah sisa makanan yang berceceran di piring dan meja itu. Perlu berapa orang untuk membuat itu semua?"

"Apa maksud kata-katamu itu? Aku kan seorang pangeran yang boleh berbuat apa saja sesuai kehendakku.. ." kilah sang pangeran kecil. Si sahabat tiba-tiba menarik tangan sang pangeran dan mengajaknya menuju ke dapur istana. Ia bawa sang pangeran menyaksikan bagaimana juru masak istana dan para pekerja dapur begitu sibuk menyiapkan makanan serta membuat berbagai macam masakan.

Saat mereka berkeliling, dari pintu belakang istana tampak seorang petani sedang membawa sekarung beras sebagai hantaran wajib ke istana. Pangeran kecil menyapa si petani bak seorang raja yang berkuasa. "Hai...Paman. .. Terima kasih atas persembahanmu. Bagaimana panen padi kali ini?" tanya sang pangeran berlagak bijak.

"Panen kali ini buruk sekali. Tuan" jawab si petani ketakutan. "Sudah tiga bulan kami bekerja keras, dari membajak, menanam, mengairi sawah sampai memupuk tanaman, tapi hasilnya sia-sia. Sawah ladang dihancurkan tikus dan hama wereng. Jadi, ampuni kami hanya mampu mempersembahkan sekarung beras ini. Hanya itu yang kami punya. Karena kami pun belum tahu bagaimana memberi makan pada anak istri kami," ujarnya sambil menghela napas panjang.

Mendengar jawaban itu, pangeran kecil tersentak dan baru tersadar. Ternyata rakyatnya sangat menderita dan terancam kelaparan. Sementara dirinya malah menyia-yiakan dan membuang-buang makanan yang begitu berharga. Sang pangeran kecil kemudian lari meninggalkan tempat itu, tingkah laku pangeran kecil berubah total. Ia menjadi anak yang sopan dan mau menghargai orang lain. Setiap kali makan, ia selalu mengingatkan dirinya sendiri,


Pembaca yang budiman.

Sejak kecil kita telah dididik untuk selalu berdoa dan mengucap syukur atas semua berkat yang diberikan Tuhan kepada kita. Mengucap syukur bukan sekedar berdoa, bukan pula sekedar melaksanakan formalitas ritual beragama. Tetapi lebih dari itu, rasa syukur kita harus disertai dengan sikap menghargai dan menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum butiran nasi yang kita makan sehari-hari mengenyangkan perut kita, betapa banyak kerja dan kegiatan yang mendahuluinya. Bila kita bisa menghargai arti sebutir nasi serta orang-orang yang menghasilkannya, maka dasar pengertian dan kebijaksanaan itu akan melahirkan sikap mental positif dalam kehidupan kita.

Doa dan syukur harus didasarkan pada perbuatan nyata dan pengertian yang benar mengenai apa yang kita lakukan. Jika setiap doa yang kita ajarkan kepada anak-anak kita, disertai dengan pengertian kebijakan untuk menghargai segala usaha dan jerih payah orang lain, serta tidak menyia-yiakan berkah yang sedang kita nikmati, niscaya, mereka kelak akan tumbuh menjadi orang-orang yang luhur budi pekertinya.

Sekali lagi ingat, ketika kita makan :
"不要留下一粒米 ..!"
(Pu Yao Liu Xia Yi Li Mi) "jangan sisakan sebutir nasi di piringmu...!

Jumat, 03 September 2010

Celengan Bambu Keliling


Celengan Bambu Keliling

artikel & foto: Hadi Pranoto
Foto

* Sembari berdagang, Lim Cun Bie juga mengajak para pelanggannya untuk berdana dalam celengan bambu Tzu Chi. Cara ini dilakukannya untuk membalas budi, setelah putrinya yang menderita tumor rahim dibantu Tzu Chi.

Sepintas tak ada yang istimewa dari cara Liem Cun Bie berdagang siomay, kecuali sepeda motor keluaran tahun 1990 yang dibelinya pada tahun 2006 seharga 4 juta rupiah yang menjadi pengganti sepeda tuanya. Lainnya, sama seperti umumnya para pedagang siomay yang kerap menjajakan dagangannya keliling kompleks, perumahan, dan perkampungan di Jakarta. Dua buah rak –dandang dan kotak kayu– yang mengapit bagian belakang motornya berisi siomay, bumbu, piring, dan juga sendok. Di depan motor, setumpuk kerupuk juga tersedia bagi pembeli yang ingin menikmati makanan ini secara komplit.

Bercat warna biru, rak kayu yang bisa dibongkar pasang itu menjadi tempatnya membawa perlengkapan dagang. Tepat di belakang rak kayu, terpasang sebuah triplek melamin berwarna putih dengan tulisan berwarna merah di depannya. “Somay”, mungkin inilah cara Liem Cun Bie mempromosikan dagangannya. “Mendingan ditulisin juga nomor teleponnya, Pak. Jadi kalo ada yang mau pesan, tinggal telepon aja,” saran Atmojo, salah seorang kru DAAI TV Indonesia, saat kami meliputnya berdagang di kawasan perumahan elit di daerah Pluit, Jakarta Utara. Cun Bie pun tersenyum dan mengangguk setuju.

Sebuah tiang kayu tercagak tegak di tengah-tengah rak dagangan. Dengan sebuah payung yang selalu siap jika sewaktu-waktu turun hujan, tiang ini sangat vital untuk melindungi Lim Cun Bie dan dagangannya. Tapi ada yang lebih menarik dari semua perlengkapan Lim Cun Bie berdagang, pria berumur 47 tahun ini juga mengikatkan sebuah “bubu” (celengan bambu) berlogo Tzu Chi bertuliskan “Dana Kecil Amal Besar”. “Ya, ini untuk pelanggan-pelanggan saya yang mau berdana, nggak dipaksa, yang mau aja,” jawab Cun Bie lancar sewaktu saya tanya maksudnya menaruh celengan bambu Tzu Chi di rak dagangannya. “Anak saya dah dibantu sama Tzu Chi, jadi saya juga mau bantu ngumpulin dana untuk bantu orang lain yang membutuhkan,” pungkasnya.

Meski celengan bambu ini tak telalu besar, namun rupanya cukup menarik perhatian para pelanggan. “Kalo yang nggak tahu, saya jelasin kalo ini dana untuk Tzu Chi, untuk bantu orang, kayak anak saya. Tapi, ada juga yang dah kenal Tzu Chi dan langsung nyumbang,” terang Liem sambil menyeka keringatnya. Betul saja, tak sedikit pembeli siomaynya yang juga menyumbangkan uangnya ke dalam celengan bambu.

Ket: - Sebelum berangkat berdagang, Lim Cun Bie memasang celengan bambu di tiang gerobak dagangannya. Dari
rumahnya di Tangerang, Cun Bie mengambil siomay dulu di daerah Jelambar, Jakarta Barat. (kiri)
- Kang Yan Nio, orang yang menyediakan siomay untuk Cun Bie juga turut berdana. Satu buah siomay diambil
dari rumah Kang Yan Nio di daerah Jelambar, Jakarta Barat dan dijual Cun Bie seharga Rp 2.000,-. (kanan)

Penyakit yang Merenggut Keceriaan
Sebagai seorang ibu, hati Kan Mi Lan tentu hancur manakala mengetahui putri bungsunya Theresia Sisfani yang baru berumur 7 tahun divonis mengidap tumor teratoma (sering disebut juga tumor monster lantaran terdapat rambut dan tulang-belulang –red) di rahimnya. Mengira awalnya hanya benjolan biasa, maka Kan Mi Lan dan suaminya hanya membawa Tere, panggilan akrabnya, berobat ke dukun pijat. Benjolan sebesar telur ayam itu selalu terlihat jelas di pagi hari, dan baru hilang setelah Tere buang air kecil. Anehnya, Tere sendiri tak pernah mengeluh sakit akan keberadaan benjolan di tubuhnya. “Kadang malah ama dia (Tere –red) dimainin, dipencet-pencet ke atas dan ke bawah,” kata Mi Lan. Meski putrinya tak pernah mengeluh, namun Mi Lan tetap merasa khawatir.

Merasa benjolan ini bukan penyakit biasa, sang dukun pijat pun angkat tangan dan menyarankan kepada keduanya, Cun Bie dan Mi Lan untuk memeriksakan kondisi putri mereka ke dokter. Mengobati penyakit biasa, mungkin Cun Bie dan Mi Lan tak terlalu berat, tapi harus membiayai biaya pengobatan penyakit seperti tumor, jelas mereka kesulitan. Penghasilan Cun Bie dari berdagang siomay hanya cukup untuk biaya sekolah dan makan sehari-hari keluarga ini. Ditambah penghasilan Mi Lan sebagai tenaga administrasi di percetakan pun tak jua membuat keduanya mampu membiayai pengobatan putri mereka. Dari sini kemudian jalinan jodoh keluarga ini terjalin dengan Tzu Chi.

Hari-hari Tere di sekolah pun berubah. Gadis cilik yang semula ceria ini tak bisa lagi belajar dan bermain seperti teman-teman sekelasnya. Menurut Irene Sumirah, wali kelasnya, Tere kerap kali tak masuk sekolah untuk izin berobat ke rumah sakit. “Dalam seminggu pasti ada izin nggak masuknya,” terang Irene mahfum. Meski begitu, di sekolah pun Tere tak pernah mengeluh ataupun meminta perhatian khusus dari guru. Irene pun terkejut kala mengetahui jika salah satu murid di kelasnya –seluruhnya 45 orang– ada yang mengidap penyakit tumor rahim. “Saya baru ngalamin punya murid yang kena penyakit seperti ini. Mamanya kalo cerita sering nangis, tapi kami cuma bisa bantu doa aja,” terang Irene prihatin.

Karena kerap absen, tak heran jika Tere akhirnya sering ketinggalan pelajaran. Sebagai guru, Irene punya taktik sendiri agar Tere bisa mengimbangi pengetahuan teman-temannya. Caranya, “Saya sarankan untuk pinjam catatan atau buku teman-temannya. Terus juga harus banyak belajar di rumah.” Tere sendiri tak terlalu khawatir ketinggalan pelajaran, sebab ia bisa bertanya tentang pelajaran di sekolah kepada kakaknya, Evelyn. “Kadang juga cari sendiri,” sahutnya. Di mata Irene, Tere adalah sosok anak yang baik dan cenderung pendiam. “Dia nggak berani untuk bertanya, tapi tertib di kelas dan nggak mudah terpengaruh sama teman-temannya,” jelasnya.

Ket: - Dengan menggunakan sepeda motor, Lim Cun Bie berkeliling menjajakan dagangannya ke daerah Pluit, Jakarta Utara.
(kiri)
- Kepada para pelanggannya, Cun Bie juga memperkenalkan tentang Tzu Chi dan celengan bambunya. Cara ini cukup
efektif, terbukti banyak pelanggan yang ikut berdana dalam celengan bambu Tzu Chi. (kanan)

Sejak Kecil Sering Sakit
Tidak seperti kakaknya, Evelyn (14), Theresia sejak bayi selalu sakit-sakitan dan sering keluar-masuk rumah sakit. Sejak berumur 40 hari, Tere memang diboyong orangtuanya tinggal di rumah kakeknya –dari pihak ayah– di Desa Kampung Besen, RT 007/014, Kecamatan Teluk Naga, Tangerang, Banten. Padahal, sebelumnya orangtuanya tinggal menumpang di rumah orangtua ibunya di daerah Jelambar, Jakarta Barat. “Saya nggak enak numpang terus sama mertua. Lagian rumah orangtua saya juga ada dan sekalian bisa ngerawat ibu saya yang sudah tua,” kata Cun Bie beralasan.

Sewaktu berumur 11 bulan, Tere terkena muntaber. Sembuh dari muntaber, Tere terserang batuk yang tak kunjung sembuh. “Batuknya nggak baek-baek, trus dirontgen dan kata dokternya ada flek di paru-paru,” kata Mi Lan berkisah. There pun harus menjalani pengobatan selama 6 bulan, dan tak boleh sekalipun putus meminum obat. Sekali saja pengobatannya terputus, maka proses penyembuhannya akan semakin panjang karena harus memulai dari awal lagi. Meski telah sembuh dari fleknya, penyakit batuk, panas, dan pilek tak pernah absen menyambangi tubuh Tere.

Menginjak usia 3 tahun, barulah kondisi kesehatan Tere mulai membaik. Dia sudah mulai jarang sakit-sakitan. Berat badannya pun meningkat drastis. Kedua orangtuanya pun mulai merasa tenang dan tak khawatir. Saat itu Tere sudah bisa bermain seperti anak-anak seusianya. Tapi sekali lagi, cobaan kembali mendera keluarga sangat sederhana ini. Menjelang masuk Sekolah Dasar, mulai terlihat ada benjolan di tubuh siswi SDS Strada Tangerang, Banten ini.

Sejak itu, kehidupan keluarga ini pun menjadi semakin sulit. Mi Lan yang semula bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah percetakan di daerah Pluit terpaksa mengundurkan diri demi menemani dan mengurusi pengobatan putrinya. “Bolak-balik ke (RS) Cipto terus, seminggu sekali,” jelas Mi Lan beralasan. Alhasil, keluarga ini pun mesti kekurangan pendapatan sebesar Rp 1 juta sebulan dari gaji Mi Lan bekerja. Bahkan sejak tidak bekerja, Mi Lan terpaksa meminta keringanan uang bayaran sekolah. Beruntung pihak sekolah mengabulkan hingga untuk biaya pendidikan, Tere hanya dikenai uang kegiatan saja.

Ket: - Theresia sedang menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Irene, wali kelasnya. Murid kelas 1 SDS Strada Tangerang,
Banten ini dulu pernah terserang tumor di rahimnya. Bulan Februari 2009, tumor itu berhasil dioperasi dengan
bantuan dari Tzu Chi. (kiri)
- Menurut Irene Sumirah, wali kelasnya, Theresia adalah anak yang baik, penurut, dan tertib. Tere juga cenderung
pendiam dan tak berani untuk bertanya kepada gurunya. (kanan)

Bingung tak memiliki biaya, Liem Cun Bie dan Mi Lan pun mencari berbagai cara untuk kesembuhan putrinya. Di tengah kegundahan itu, nasib baik bertandang padanya. Tanpa sengaja, Liem Cun Bie yang biasa berdagang siomay di daerah Pluit, bertemu dengan Acun, salah seorang relawan Tzu Chi yang kebetulan juga tetangga dekatnya di Tangerang. Acun ingat, kala itu Cun Bie berkata, “Acun, gue mau nanya. Anak gue ada benjolan di perutnya, tapi gue nggak ada biaya.” Oleh Acun, Cun Bie kemudian disarankan untuk mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan mengajukan permohonan bantuan pengobatan ke kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Karena tempat tinggalnya berada di wilayah Tangerang, maka disarankan untuk mengajukannya ke Tzu Chi Tangerang. “Awalnya saya kira hanya hernia,” tebak Acun kala itu.

Tumor Monster
Berbekal SKTM, Cun Bie pun mendatangi kantor Tzu Chi Tangerang untuk meminta bantuan pengobatan bagi putrinya. Karena syarat-syaratnya telah lengkap, tak perlu menunggu lama, dua hari kemudian relawan Tzu Chi menyurvei ke rumahnya dan disetujui jika Tere ini memang benar-benar membutuhkan bantuan dan segera dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Dari sini pemeriksaan rutin dilakukan. Dimulai dari pemeriksaan USG abdomen (perut), tapi juga masih belum ketahuan jenis penyakitnya. Barulah jelas bahwa benjolan yang bersarang di dinding rahim Tere itu ternyata sejenis tumor teratoma, atau yang dikenal juga sebagai tumor monster –ada rambut dan tulang belulang dalam benjolan setelah dilakukan pemeriksaan sistogram. “Saya sempat tanya sama dokternya, kok bisa anak saya sakit kayak gini (tumor rahim –red)?” ujar Mi Lan heran. Oleh dr Iskandar, dokter yang menangani, dijelaskan bahwa tumor ini merupakan penyakit bawaan sejak Tere masih di dalam kandungan.

Ket: - Acun, relawan Tzu Chi menyerahkan bukti sumbangan dari Tzu Chi yang diberikan oleh Cun Bie setiap bulan. (kiri)
- Selama hampir 3 bulan menabung, Cun Bie akhirnya menyerahkan celengan bambunya kepada Tzu Chi pada tanggal
3 April 2009. Terkumpul Rp 99 ribu dari sebagian penghasilan yang disisihkan Cun Bie setiap harinya. (kanan)

Maka sejak Januari 2009, Tere harus bolak-balik RSCM untuk melakukan pemeriksaan dan kontrol atas penyakitnya. Barulah sebulan kemudian, tepatnya 19 Februari 2009, dokter memutuskan untuk mengoperasinya. Tumor sekepalan tangan orang dewasa itu pun berhasil diangkat dari tubuh Tere. “Tenang saya sekarang, dah nggak ada apa-apa. Paling saya harus ngejagaiin dia ini hati-hati,” kata Mi Lan.

Tere pun kini sudah membaik dan tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya. Hanya untuk berjaga-jaga, Mi Lan belum mengizinkan putrinya untuk berolahraga. Berat badan Tere pascaoperasi pun terus meningkat. “Kata dokter sih dah nggak papa, tapi saya takut jahitannya lepas,” aku Mi Lan.

Ingin Membantu Orang Lain
Ada hal lain yang didapat dari Cun Bie dan Mi Lan ketika harus bolak-balik mengantar putri mereka ke RSCM. “Kami jadi tahu, ternyata yang sakit seperti anak saya banyak, bahkan lebih parah kondisinya,” kata Cun Bie prihatin. Hal ini sempat ia ungkapkan kepada Acun. “Kalo gitu pengeluaran Tzu Chi gede juga ya?” tanya Cun Bie pada Acun. “Waktu itu dia (Cun Bie –red) sempat nggak percaya kalo yang ditangani Tzu Chi ternyata banyak,” kata Acun mengenang.

Oleh Acun kemudian dijelaskan bahwa dana Tzu Chi diperoleh dari para donatur. “Siapapun boleh berdana, yang penting punya niat tulus,” tegas Acun. Mendengar hal ini, Cun Bie langsung meminta celengan bambu kepada Acun untuk ikut berdana. “Setiap kali pulang dagang, saya selalu sisihin buat di celengan bambu,” terang Cun Bie. Dari rata-rata Rp 60-70 ribu penghasilannya berdagang, Cun Bie selalu menyisihkannya ke dalam celengan bambu.

Ket: - Kan Mi Lan tak kuasa menahan tangis saat menceritakan cobaan yang dialami oleh putrinya, Theresia. (kiri)
- Bersama-sama denga Acun, Cun Bie, istri, dan anaknya sama-sama menghitung uang dari hasil celengan bambu
mereka. Ini merupakan tanda terima kasih mereka terhadap Tzu Chi yang telah membantu pengobatan putri mereka.
(kanan)

Hasilnya, setelah 3 bulan menabung, celengan bambu itu pun penuh. Jumat, 3 April 2009, Cun Bie, Mi Lan, dan Theresia membuka celengan bambu mereka. Hasilnya, Rp 99 ribu langsung mereka serahkan kepada Acun untuk disumbangkan kepada Tzu Chi.

Tidak hanya itu, Cun Bie pun merasa dia harus membantu Tzu Chi mencari donatur. “Saya tanya sama Achun, boleh nggak kalo saya pasang celengan bambu di motor saya?” tanya Cun Bie. Mendengar hal ini, Acun pun merasa senang dan langsung mengiyakan. “Saya pikir nggak masalah, malah bagus jadi bisa menggalang banyak hati untuk berbuat kebajikan,” kata Acun.

Maka, sejak itu para pelanggan siomay Cun Bie dapat melihat hal yang berbeda di rak tempatnya berdagang. Sebuah celengan bambu selalu siap tergantung di tiang gerobak siomaynya. “Saya nggak malu, ini kan juga untuk bantu orang lain. Saya dah dibantu Tzu Chi, saya juga mau bisa bantu orang lain,” tegas Cun Bie mengutarakan alasannya berbuat demikian. Mi Lan pun setuju dan mendukung tekad suaminya. “Kalau nggak dibantu Tzu Chi, gimana bisa bayar operasinya,” ungkap Mi Lan. Wajahnya yang putih mulai memerah dan tak lama, butiran air mata jatuh ke pipinya. “Kita dah ditolong, nggak akan lupalah. Saya siap bantu apa aja untuk Tzu Chi. Kalo ada bantu dana, kalo nggak ya bantu tenaga saya juga siap,” kata Cun Bie bertekad.

"Dua Celengan Bambu"

Berawal dari Celengan Bambu
“Siapakah pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi?” ujar Liwan Shixiong, relawan yang menjadi pembawa acara siang itu. Rupanya masih banyak penerima bantuan yang belum mengetahui tentang Yayasan Buddha Tzu Chi. Pendiri Yayasan Buddha Tzu Chi adalah Master Cheng Yen, didirikan di Hualien Taiwan 44 tahun yang lalu. Yayasan Buddha Tzu Chi merupakan sebuah yayasan kemanusiaan yang universal: lintas agama, ras dan bangsa. Selain itu dijelaskan pula panggilan “Shixiong” dan “Shijie” yang sering diucapkan oleh relawan Tzu Chi. “Shixiong merupakan panggilan untuk pria dan Shijie merupakan panggilan untuk wanita,” terang Liwan.

Yayasan Buddha Tzu Chi berawal dari 30 ibu rumah tangga yang setiap hari, masing-masing individu, merajut sepasang sepatu bayi. Selain itu, masing-masing juga diberi celengan bambu oleh Master Cheng Yen, agar mereka setiap hari dapat menghemat uang belanjaannya sebesar 50 (lima puluh) sen untuk ditabung ke dalam celengan bambu. Hasil dari dana tersebut digunakan untuk membantu kaum fakir miskin.

foto foto

Ket : - Relawan Tzu Chi memperagakan bahasa isyarat tangan "Satu Keluarga" sebagai bentuk cinta kasih universal. (kiri)
- Yang Pit Lu, relawan Tzu Chi di bagian pendampingan pasien pengobatan tengah memberikan penjelasan tentang perlunya turut bersumbangsih untuk membantu sesama kepada para pasien penerima bantuan dan keluarganya. (kanan)

Isi Celengan Bambu
Meskipun Yayasan Buddha Tzu Chi telah berkembang pesat, tetapi Master Cheng Yen tetap berpegang teguh pada prinsip kemandirian, yaitu dengan cara bercocok tanam dan menjalankan industri rumah tangga. Seluruh pengeluaran di tempat tinggal beliau yang disebut dengan Griya Perenungan ditanggung dari usaha kemandiriannya beserta murid- muridnya. “Beliau sama sekali tidak menggunakan uang sumbangan dari para pengikutnya. Seluruh sumbangan digunakan untuk membantu kaum fakir miskin,“ kata Chandra Shixiong menjelaskan.

“Mengapa kita perlu menabung setiap hari, kenapa tidak sebulan sekali saja dengan jumlah yang sama?” tanya Yang Pit Lu kepada para hadirin. Relawan yang aktif di bagian pendampingan pasien ini kemudian menjelaskan, “Dengan menabung setiap hari maka setiap hari kita telah berbuat satu kebajikan. Berbeda dengan langsung menabung satu bulan dengan jumlah yang sama, kebajikan yang dilakukan hanya satu kali sebulan, bukan tiga puluh kali sebulan.” Selain itu isi dari celengan bambu adalah doanya bukan jumlahnya. “Doanya semoga semua orang hidup bahagia, dunia terhindar dari bencana, semoga dengan doa banyak orang, dunia menjadi lebih damai, lebih tenteram dan aman,” tambah Yang Pit Lu.

foto foto

Ket: - Relawan dan para keluarga para penerima bantuan pengiobatan Tzu Chi melakukan shou yu (isyarat tangan) "Satu Keluarga". (kiri).
- Hubungan yang terjalin antara pasien penerima bantuan pengobatan Tzu Chi dan relawan yang "mendampinginya memang sangat erat, layaknya sebuah keluarga. (kanan)

Dulu Dibantu Sekarang Membantu
Budi Salim adalah salah satu penerima bantuan pengobatan dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Saat berobat ke rumah sakit, hatinya tergerak untuk ikut membantu orang lain yang lebih membutuhkan dari dirinya. Dia kemudian berjualan kue setiap hari dan menabung sebagian dari keuntungan hasil penjualannya ke dalam celengan bambu. Melalui kisah ini, ibu dari Calista, pasien penerima bantuan pengobatan Tzu Chi merasa tergerak hatinya untuk membantu orang lain juga. “Selama ini saya ingin sekali membantu tetapi tidak tahu harus bagaimana memulainya. Akhirnya sekarang saya tahu bagaimana cara ikut membantu sehingga saya mengambil dua celengan bambu. Satu untuk kakak saya, dan satu lagi untuk saya,” ujarnya dengan gembira.

Acara ini kemudian ditutup dengan peragaan isyarat tangan “Satu Keluarga” oleh para relawan dan seluruh penerima bantuan. Suasana menjadi sangat akrab dan penuh rasa kekeluargaan. Seluruh peserta penerima bantuan maupun relawan merasa sangat senang dengan kegiatan ini.

Training 4 in 1

Training 4 in 1

Jurnalis : Riani Purnamasari (He Qi Utara)
Fotografer : Riani Purnamasari (He Qi Utara), Feranika Husodo (He Qi Utara), Lie Octavianus (He Qi Selatan)

fotoChai Qing Hua dan Yang Ci You memberikan pelatihan terhadap relawan fungsional di 4 He Qi di Indonesia (Utara, Barat, Selatan, dan Timur).

“Perjalanan ribuan kilometer harus dimulai dari langkah pertama.

Pencerahan yang dicapai oleh orang suci, juga dimulai dari pelatihan diri pertama sebagai orang biasa.” (Master Cheng Yen)

Selama dua hari, Sabtu dan Minggu (28 -29 Agustus 2010), Aula Lantai 3 RSKB Cinta Kasih dipenuhi oleh para relawan fungsional 4 in 1 dari berbagai kota. Dua sesi pelatihan 4 in 1 pun terbagi atas dua bahasa. Bahasa Mandarin pada hari Sabtu dan Bahasa Indonesia pada hari Minggunya. Empat orang relawan yang telah sukses menjalankan fungsi 4 in 1 di Taiwan, datang jauh-jauh ke Indonesia agar fungsi 4 in 1 dapat diterapkan dengan benar.

Mengubah Kebiasaan Buruk
Chai Qing Hua, relawan Tzu Chi Taiwan berbagi pengalamannya dalam tema “Penerapan Keyakinan Ikrar”. Sebelum mengenal Tzu Chi, Chai Qing Hua adalah pribadi yang gemar merokok, minum- minuman keras, makan pinang, berjudi, dan dekat dengan dunia malam. Baginya, jodohnya bersama Tzu Chi terbilang panjang. Sepuluh tahun sebagai donatur, barulah kemudian ia menjadi relawan Tzu Chi. Saat itulah, Chai Qing Hua berikrar secara diam-diam untuk mengubah dirinya. Tiba-tiba Chai Qing Hua menyadari perbuatannya dan kemudian seketika itu beliau menjadi seorang vegetarian dan mengubah 5 kebiasaan buruknya secara spontan. Ia menyarankan kepada para relawan yang menjadi peserta bahwa jika seseorang mau berubah dengan ikrar yang diucapkan, hal itu dapat secara spontan dilakukan.

Mama Tzu Chi Indonesia
Huang Yan Xian mengajak para relawan Indonesia untuk lebih banyak lagi mengajak para Bodhisatwa baru untuk menyebarkan cinta kasih. Dengan Aula Jing Si terbesar dan terindah, dan pemberitaan dari DAAI TV, Huang Yan Xian juga mengimbau untuk berpartisipasi dalam menyebarkan semangat untuk bervegetarian karena Master Cheng Yen selalu menganjurkan para muridnya untuk merawat bumi dengan bervegetarian.

foto foto

Ket : - Yang Ci You atau kerap disapa Mama Ru Yun merupakan salah satu orang yang berjodoh dalam cikal bakal berdirinya Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. (kiri)
- Huang Yan Xian mengajak para relawan Indonesia untuk lebih banyak lagi mengajak para Bodhisatwa baru untuk menyebarkan cinta kasih. (kanan)

Penjelasan tentang makna dan tujuan didirikannya Aula Jing Si dilakukan oleh Ketua dan Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei dan Sugianto Kusuma secara bergantian di dua hari yang berbeda. Aula Jing Si dengan luas 8 hektar lebih akan ditempati sebagai gedung pertemuan, Kantor Pusat Yayasan, Kantor DAAI TV Indonesia, Sekolah Bertaraf Internasional, dan penginapan untuk relawan luar kota yang akan mengikuti acara di Jakarta, yang dapat menampung sebanyak 800 orang. Diharapkan dengan tersedianya fasilitas yang sangat memadai, para relawan pun akan turut serta dalam menjaga kebersihan dan keamanan Aula Jing Si, karena Aula Jing Si yang diperkirakan akan selesai dibangun tahun 2011 ini merupakan rumah bersama insan Tzu Chi Indonesia.

Yang Ci You atau kerap disapa Mama Ru Yun merupakan salah satu orang yang berjodoh dalam cikal bakal berdirinya Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Di dalam bekerja Tzu Chi, para relawan harus melakukan dengan hati yang gembira dan bersyukur. Melakukan kebajikan tanpa pamrih akan membangkitkan kekuatan yang tidak terbatas. Mama Ru Yun menekankan bahwa di dalam bersumbangsih, walaupun sumbangsih itu masih kecil, namun dapat menjadi sumbangsih yang luhur, dimana cinta kasih individual berubah menjadi cinta kasih universal yang diberikan kepada semua kegiatan yang dilakukan.

Tak Kenal Menyerah
Shi Chao Sen merupakan relawan usia senja yang bergabung sejak berusia 64 tahun. Dalam waktu setahun, Shi Chao Sen kemudian menjadi Ketua Xie Li. Memiliki 18 anggota, Shi Chao Sen tekun mengajak relawan lainnya untuk aktif dalam kegiatan Tzu Chi. Lima diantaranya, yang berusia 80 tahun lebih diminta untuk mendoakan orang yang meninggal, dan mereka mau dengan beberapa kali pendekatan. Ada pula pengalaman lain, yaitu ketika ia mendekati seseorang dengan menunggu dan mengamati jadwal kosong seorang pedagang yang selalu beralasan tidak memiliki waktu luang. Pengamatan yang dilakukan adalah dengan melihat hari tutup toko selama sebulan. Setiap Rabu, ternyata orang tersebut menutup tokonya. Di bulan berikutnya, Shi Chao Sen mendatangi dan mengajaknya untuk mengikuti kegiatan Tzu Chi. Berbagai jenis penolakan didengar oleh Shi Chao Sen, namun ia tidak gentar. Alhasil, orang tersebut akhirnya berkata bahwa dia akan meluangkan waktu hanya 1 jam saja, namun berkat pendekatan personal yang dilakukan oleh Shi chao sen, orang tersebut akhirnya merasa nyaman dan sampai sekarang terus menjadi relawan aktif Tzu Chi.

foto foto

Ket: - Para relawan dengan antusias mengikuti gerakan isyarat tangan Xing Fu De Lian (Wajah yang Bahagia). (kiri).
- Sesi tanya-jawab Shi Chao Sen dan Huang Yan Xian yang sangat menarik dan mengundang para relawan mengajukan berbagai pertanyaan. Wen Yu Shijie, relawan Tzu Chi Indonesia menjadi penerjemah dalam diskusi ini. (kanan)

Ada sesi tanya jawab yang dibagi menjadi 2 kelompok. Yang pertama adalah kelompok fungsional yang mengambil tempat di Aula Sekolah Cinta Kasih lantai 2, dan kelompok kedua yaitu para relawan abu putih dan biru putih. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh para relawan. Christine, salah satu relawan abu putih menanyakan tentang bagaimana mempertahankan tekad, bagaimana cara mempertahankan sikap agar tidak merusak citra Tzu Chi, dan bagaimana cara mengatur waktu untuk keluarga dan kegiatan Tzu Chi. Huang Yan Xian membabarkan agar tekad dapat dipertahankan dengan selalu mendengarkan Dharma Master Cheng Yen, menonton lentera kehidupan atau sharing dengan sesama relawan lainnya. Menjaga citra dapat dilakukan dengan berlatih dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Huang Yan Xian juga menekankan kepada para relawan agar mendahulukan peran di keluarga baru kemudian menjadi relawan Tzu Chi.

Feny Chen, relawan dari He Qi Selatan mengajukan pertanyaan yang sering pula dialami para wanita. “Bagaimana cara menjelaskan kepada orang tua saya bahwa saya mau bervegetarian, bahkan ketika saya nanti melahirkan? Karena orang tua saya akan memberikan saya ayam arak setelah saya melahirkan.” Huang Yan Xian juga menceritakan pengalaman yang sama, “Saya berkata kepada mertua saya yang memberi saya ayam arak bahwa saya vegetarian, jadi setelah melahirkan, saya bilang untuk jangan risau dulu tentang hal yang dikhawatirkan kalau tidak meminum ayam arak.”

Pertanyaan terakhir datang dari Adeline, relawan yang kerap hadir pada bedah buku di He Qi utara. Adeline bertanya tentang mata pencaharian yang berkaitan dengan saham. “Apakah bermain saham itu judi? Bolehkah bermain saham itu dijadikan mata pencaharian?” tanya Adeline. Huang Yan Xian kembali bertanya dengan situasi hati yang akan dialami para emain saham, “Kalau bermain saham membuat hati tidak tenang dan terjadi spekulasi maka itu judi. Kalau tidak membuat hati gelisah (naik-turunnya saham dipantau terus-menerus –red) dan dilakukan hanya sebagai investasi, ya tidak masalah.” Pelatihan fungsional 4 in 1 ditutup dengan sharing para peserta pelatihan, doa bersama, dan ikrar untuk tetap di jalan Tzu Chi.

Ciptakan Hijau, Rapi, dan Bersih

Ciptakan Hijau, Rapi, dan Bersih

Jurnalis : Veronika Usha
Fotografer : Veronika Usha

fotoSebagai salah satu bentuk kepedulian Husin terhadap pelestarian lingkungan, ia membuat sebuah metode penanaman yang hemat air dan dengan lahan terbatas yang dinamakan dengan metode Sistem Kantung Air.

“Saya ingin mengajak masyarakat untuk menghijaukan lingkungan. Mengapa kita perlu hijau? Karena setiap kali kita bernafas, setidaknya kita telah mengeluarkan 0.002gr CO2. Sedangkan kemampuan mengolah CO2 tersebut dominan dilakukan oleh dedaunan. Sebuah penelitian mengatakan untuk mengolah CO2 yang dihasilkan oleh 200 orang per jam, dibutuhkan 1 hektar daerah hijau, untuk menetralisirnya. Jadi, kalau kita ingin lingkungan kita ini cukup oksigen, kita harus menciptakan daerah hijau sebanyak-banyaknya,” ucap Husin menerangkan pemikiran dasar kegiatan pelestarian lingkungan yang dilakukannya.

Husin Yusuf, pria kelahiran Aceh 70 tahun silam ini, telah menghabiskan waktu dan tenaganya selama lebih kurang lima tahun untuk memecahkan persoalan yang tengah dihadapi oleh lingkungan saat ini. Kecintaannya terhadap lingkungan yang memiliki nuansa hijau, rapi, dan bersih membuatnya menciptakan metode penanaman tanaman dengan Sistem Kantong Air dan kegiatan daur ulang dengan proses pembuatan kompos cair, yang ramah lingkungan serta berguna bagi masyarakat.

Hijaukan Lahan
Sekitar tahun 1980, Husin mendapat kesempatan dari tempatnya bekerja untuk mempelajari tata cara pemeliharaan industri di Jepang. Ketika di akhir diskusi, seorang anak muda yang bergelar S3 menghampiri Husein dan bertanya kepadanya, “Waktu saya di sekolah menengah, saya belajar mengenai negara-negara yang berada di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Menurut informasi saat itu, Indonesia adalah gudang beras. Bahkan hingga mendapat julukan sebagai pulau beras atau Jawa Dwipa. Tapi mengapa Indonesia bisa mengimpor beras dari Jepang? Padahal di Jepang itu, hanya ada 20% dari daerah teritorialnya yang bisa dihijaukan, dan itu bukan padi. Karena hanya sebagian kecil lahan yang bisa menghasilkan padi. Saya benar-benar tidak habis pikir.”

“Mendengar hal itu, hati saya benar-benar sakit. Saya baru menyadari bahwa masyarakat dari negara lain bisa lebih peduli dengan keadaan Indonesia. Sedangkan kita sendiri, mungkin tidak menyadari akan hal ini,” tutur Husin. Sejak saat itu ia pun bertekad dalam hati akan melakukan sesuatu untuk pertanian Indonesia. Setelah resmi pensiun tahun 2000, Husin mulai menjalankan tekad hatinya. Terlebih, dirinya semakin prihatin melihat kondisi lingkungan yang semakin lama semakin tercemar.

Melalui lingkungan tempat tinggalnya sendiri, Husin mulai mengajak masyarakat untuk menciptakan lahan hijau. “Waktu pertama kali saya mengajak warga di jalan Maritim Raya, Cilandak Barat untuk mulai bercocok tanam, banyak dari mereka yang enggan melakukannya dengan alasan ‘Saya kan tidak punya pekarangan yang luas’ atau ‘Saya sibuk bekerja, mana ada waktu untuk mengurus tanaman’,” terang Husin.

foto foto

Ket : - Penanaman dengan Sistem Kantung Air ini menggunakan metode yang sangat sederhana, dengan menggunakan pipa kapiler, kebutuhan tanaman akan air bisa dikendalikan. (kiri)
- Untuk mengurangi volume sampah, Husin pun mengolah sampah rumah tangga organik menjadi pupuk cair yang berguna untuk tanaman dan tidak mengandung bahan kimia. (kanan)

Sistem Kantong Air
Oleh karena itu, ia pun akhirnya mulai mencari akal bagaimana menciptakan metode yang tepat untuk bercocok tanam di lahan yang terbatas. Husin menjelaskan, “Saya mulai melakukan beberapa pengamatan. Mengapa pohon bisa hidup, bagaimana dia hidup tanpa kita terlalu terbebani? Hingga akhirnya saya menemukan sistem kapiler yang saya terapkan dalam metode penanaman dengan sistem kantong air. Jadi tanah saya taruh di atas, sedangkan air di bawah, lalu saya sambung dengan sistem kapiler, dan ternyata tanah tersebut siap untuk ditanami.”

Metode Sistem Kantong Air ini pun akhirnya diperkenalkan Husin pada tahun 2007 kepada masyarakat di sekitar rumahnya. Awalnya beberapa warga sempat merasa ragu. “Mereka bilang, untuk apa repot-repot tanam begitu?” tambah Husin. Tapi setelah metode tersebut berhasil diterapkan dengan hasil yang cukup memuaskan, maka semakin banyak warga yang berdatangan ke rumah Husin, untuk belajar cara bertanam dengan menggunakan metode ini. Tidak hanya itu, ia pun akhirnya memberanikan diri untuk mulai mensosialisasikan sistem ini kepada masyarakat umum melalui beberapa pameran dan pelatihan, dengan menggunakan nama “Saung Kagura”.

Kelebihan metode yang digunakan oleh Husin, selain tidak perlu membutuhkan lahan yang luas, metode ini juga sangat hemat air. “Saat ini kita tahu kalau sumber daya air sangat terbatas, karena pencemaran. Karena itu kita harus bijak dalam menggunakan sumber air bersih. Sistem ini sangat hemat air. Kita bisa mengatur dalam satu bulan tidak perlu menyiram tanaman tersebut,” jelas Husin. Selain itu, Husin pun menggunakan barang-barang bekas dalam menerapkan metode ini. Botol-botol bekas minuman yang sudah tidak terpakai, kini beralih fungsi menjadi tempat kantong air untuk tanaman. “Setiap bulan saya rutin mendapatkan sampah botol bekas dari para tetangga maupun teman-teman, yang nantinya akan saya daur ulang menjadi tempat kantong air,” tambah bapak dari tiga orang anak ini.

foto foto

Ket : - Tujuan Husin sebenarnya adalah mengajak masyarakat untuk menciptakan lahan hijau sebanyak -banyaknya. Baik dengan cara konvensional, maupun menerapkan metode yang diciptakannya. (kiri)
- Selain melestarikan lingkungan, metode yang diperkenalkan oleh Husin juga bisa membantu para petani untuk bisa memproduksi pupuk mereka sendiri, sehingga bisa menekan biaya produksi. (kanan)

Selesaikan Sampah Sendiri
Permasalahan pelestarian lingkungan kedua yang dihadapi oleh masyarakat adalah sampah. “Kita tahu, di Jakarta berapa ton sampah terjadi setiap menitnya, ke mana sampah itu akan dibuang? Oleh karena itu saya menghimbau kepada masyarakat untuk mencoba menyelesaikan sampahnya sendiri, sehingga bisa menekan jumlah sampah yang akan dihasilkan,” ungkap Husin.

Salah satu cara yang dilakukan Husin dalam menyelesaikan sampah rumah tangganya adalah dengan mengolah sampah organik/sisa makanan menjadi kompos. “Dahulu sisa-sisa makanan kami olah menjadi kompos padat. Namun karena pupuk padat memiliki kekurangan dalam proses fermentasinya maka akhirnya saya mencoba untuk membuat kompos cair,” tambahnya.

Setelah diamati, penggunaan kompos cair jauh lebih aman untuk tanaman dan tanah. Husin berharap para petani mulai meninggalkan pupuk kimia. Karena selain berbahaya, pupuk tersebut juga menyebabkan 63% lahan pertanian Indonesia terkontaminasi oleh bahan kimia. Husin menjelaskan, “Selain terbuat dari bahan alami, pembuatan pupuk ini juga mudah, dan bisa dilakukan oleh para petani dimana saja. Saya ingin kehidupan para petani bisa ‘berdaulat’. Mereka tidak perlu membeli pupuk dengan harga yang mahal, tapi mereka bisa membuatnya sendiri, sehingga biaya produksi pun menjadi lebih rendah, dan secara otomatis menaikkan tingkat kesejahteraan mereka.”

Untuk menguji kompos cair miliknya, Husin sengaja membawanya ke Lembaga Penelitian Tanah untuk diuji, apakah kompos miliknya layak untuk digunakan secara klinis, dan sesuai dengan standar yang telah ditentukan. “Saya tidak berpikir untuk mengkomersilkan produk ini. Keinginan saya hanya untuk membantu masyarakat, dan menjaga alam ini. Bagaimana pun caranya, baik dengan cara konvensional (menanam di tanah –red), atau mengurangi volume sampah dengan membuat kompos padat, dan tidak menggunakan sistem saya, yang penting masyarakat mulai memiliki kesadaran untuk lebih peduli kepada lingkungan. Itu yang paling penting,” tuturnya mantap.

Inspirasi Bagi Semua Orang

Inspirasi Bagi Semua Orang

Jurnalis : Mimi
Fotografer : Chia Chai Chua, Hoon Tai Peng, Wismina

fotoRelawan Tzu Chi Pekanbaru melakukan penempelan poster Kata Perenungan Master Cheng Yen di sejumlah toko di sepanjang Jl. Tuanku Tambusai pada Sabtu, 12 Juni 2010..

Sejak Tzu Chi didirikan, budaya kemanusiaan menjadi salah satu bidang perhatian Tzu Chi. Saat ini bidang itu telah berkembang dan terus mengalir ke seluruh pelosok dunia. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menyebarluaskan cinta kasih ke seluruh dunia adalah dengan mengembangkan pikiran positif masyarakat luas yang dapat direalisasikan melalui satu tindakan, yaitu menyajikan kata-kata yang positif seperti kata-kata perenungan dari Master Cheng Yen.

Sinar matahari memang sangat terik. Namun panasnya sinar matahari siang hari tidak menghalangi sebuah rencana penggalangan cinta kasih yang telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Beberapa hari sebelum hari-H, xiao pu sa (Bodhisatwa Kecil) dari Kelas Budi Pekerti Tzu Chi yang sedang liburan sekolah, mengisi kegiatan hari liburnya dengan membantu melaminating poster-poster Kata Perenungan Master.

Kata-kata Sederhana yang Bijak
Tanggal 12 Juni 2010, pukul 13.00 WIB, relawan Tzu Chi Pekanbaru sudah mulai berdatangan dan terkumpullah 13 relawan, termasuk di dalamnya 3 xiao pu sa yang telah bersiap diri untuk diturunkan ke lapangan dalam usaha menjalankan misi “Hao Hua Yi Tiao Jie“ (Penempelan Poster Kata Perenungan). Sebagai permulaan kegiatan yang baru pertama kali dilakukan, relawan dibagi ke dalam 2 tim dan hanya turun ke satu jalan, yaitu Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru. Sebelum melakukan kegiatan, relawan diberikan pengarahan terlebih dahulu oleh Chia Chai Chua Shixiong, koordinator kegiatan, agar kegiatan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Yang harus diperhatikan oleh setiap relawan dalam kegiatan ini antara lain, tata krama dalam mengenalkan diri, etika di saat meminta persetujuan untuk menempelkan Kata Perenungan, dan lain-lainnya.

Sebagai jantung Kota Pekanbaru, Jalan Tuanku Tambusai menjadi pusat pertokoan barang-barang elektronik, spare part dan juga furnitur. Tibalah di sebuah toko dengan pemiliknya yang bernama Chai Long Chien. Sebagai salah satu tempat penjualan barang-barang spare part, setiap sisi dan sudut toko tentu sudah penuh diisi dengan stok barang dagangan. Namun dengan penuh sukacita Chai Long Chien menyambut kehadiran relawan, beliau tetap berusaha mencari celah agar kata renungan dapat ditempelkan.

Sebagai orang yang mengerti bahasa Mandarin dengan baik, makna kata renungan tentu sangat mudah diterima oleh beliau. “Saya sangat terkesan dengan kata perenungan Master Cheng Yen ini. Kata-katanya nggak bikin pusing dan dapat diterima. Tapi ya generasi muda sekarang tentu tidak gampang bagi mereka untuk menerima kata-kata seperti ini, apalagi mempraktikkannya. Karena seperti yang kita tahu, generasi muda banyak yang telah rusak akhlak budi pekertinya,” katanya.

foto foto

Ket : - Murid-murid Kelas Budi Pekerti Tzu Chi juga turut berpartisipasi dengan membantu melaminating kata renungan agar menjadi lebih awet. (kiri)
- Tina, seorang relawan yang baru saja bergabung dengan Tzu Chi Pekanbaru sangat antusias mengikuti kegiatan ini. (kanan)

“Iya, betul. Oleh sebab itu, mari kita gunakan kesempatan ini. Dengan menempelkan kata renungan seperti ini, kita berharap banyak kalangan yang dapat membacanya, agar dengan kata-kata sederhana nan bijak dapat mengingatkan orang-orang untuk berjalan di jalan yang benar, “ jawab salahs seorang relawan.

Sambutan Hangat dari Para Pedagang
Hui Shan, pemilik sebuah toko komputer di Jalan Tuanku Tambusai juga tak luput disinggahi oleh relawan Tzu Chi. Sebelumnya Hui Shan telah mengenal Tzu Chi melalui sebuah kegiatan amal rutin yang biasa dilakukannya. Info kegiatan Tzu Chi pun terus diikuti. Hingga akhirnya Hui Shan memutuskan untuk menjadi donatur Tzu Chi. Karena walaupun memiliki niat yang besar untuk turut bersumbangsih secara langsung, namun beliau belum memiliki cukup waktu untuk itu. Hingga akhirnya tanggal 13 Mei 2010, Hui Shan datang ke Kantor Tzu Chi Pekanbaru untuk menjadi salah satu pendonor dalam kegiatan donor darah yang dilaksanakan pada hari tersebut. Pada saat penempelan Kata Perenungan Master Cheng Yen, Hui Shan meminta 2 kata renungan dan mengambil kesempatan berbuat kebajikan dengan menyumbangkan sejumlah dana kepada Tzu Chi.

Pedagang kaki lima pun tidak dilewatkan. Sebuah tempat makan miso yang menjadi favorit masyarakat Pekanbaru yang bernama Miso Arifin, dengan tangan terbuka menerima dan memberikan tempat untuk relawan menempelkan kata renungan. “Kami memiliki beberapa cabang di Pekanbaru, jadi kami berharap relawan Tzu Chi bersedia singgah di tempat kami di daerah lain untuk menempelkan kata renungan ini,” kata sang pemilik toko.

Tidak terasa waktu telah menjelang sore. Dari ruas Jalan Tuanku Tambusai yang cukup panjang, terdapat 51 tempat yang berhasil dikunjungi, dan 34 tempat memberi sambutan yang baik. Kedua tim relawan kembali dan berkumpul di rumah Herman Shixiong, relawan Tzu Chi yang berdominisili di Jalan Tuanku Tambusai. Sambil beristirahat, relawan juga melakukan sharing berbagi cerita dan kisah yang didapat selama melakukan kegiatan tersebut. Seorang relawan yang baru saja bergabung dengan Tzu Chi Pekanbaru bernama Tina, sebelumnya telah mengikuti pelatihan relawan abu putih di negeri tetangga Malaysia, mengaku sangat senang sekali dapat berjodoh kembali dengan Tzu Chi di Indonesia, khususnya di Pekanbaru.

foto foto

Ket : - Meski tokonya sudah dipenuhi dengan barang-barang, namun pemilik toko tetap mengijinkan relawan bantuan. (kiri)
- Pemilik toko turut membantu relawan Tzu Chi menempelkan Kata Perenungan Master Cheng Yen di dinding tokonya. (kanan)

“Ketika itu saya sedang mengambil studi di Malaysia dan bergabung dengan Tzu Chi Malaysia. Setelah selesai studi, saya kembali ke Indonesia. Di Pekanbaru, di tempat saya tinggal ternyata ada juga relawan Tzu Chi. Dia adalah tetangga saya. Saya langsung mencari info mengenai Tzu Chi Pekanbaru darinya dan diajak untuk berpartisipasi dalam kegiatan. Tentu saja saya sangat senang bisa mengikuti kegiatan Hao Hua Yi Tiao Jie. Langsung mendapatkan kesempatan untuk dapat menjelaskan kepada orang-orang mengenai Dharma Master Cheng Yen merupakan suatu hal yang membanggakan buat saya. Karena seperti yang kita ketahui, Dharma Master Cheng Yen telah banyak menginspirasi jutaan manusia di dunia,” kata Tina.

Kegiatan seperti ini tentu tidak sepenuhnya dapat diterima secara positif oleh masyarakat. Terbukti dengan adanya praduga dari masyarakat bahwa setiap orang/sekelompok orang yang masuk ke tempat mereka dengan berpakaian seragam dan membawa buku ataupun stiker adalah mereka yang memiliki tujuan untuk meminta sumbangan. Sehingga tidak sedikit dari masyarakat yang selalu menutup pintu (menolak). Akan tetapi, relawan Tzu Chi berusaha untuk menjernihkan pemikiran tersebut dengan memberikan penjelasan yang santun bahwa tidak semua orang yang datang kepada kita adalah orang yang selalu memiliki niat yang tidak baik. Yang dapat dipelajari dengan adanya kejadian ini adalah kita berusahalah untuk selalu berpikir positif, ucapkanlah kata-kata yang baik, dan lakukan perbuatan yang baik. Semoga dengan dilakukannya Hao Hua Yi Tiao Jie ini, setiap insan manusia di dunia dapat terinspirasi, meluruskan pikiran manusia, dan meningkatkan akal budi umat manusia menjadi bersih terbebas dari debu kekotoran batin.